Rabu, 10 Agustus 2016

Kondisi Islam Pra Kebangkitan Mekkah






    A.    Keberagaman dan Kepercayaan Masyarakat Mekkah sebelum Datang Islam

Sebelum Islam datang, bangsa Arab telah menganut berbagai macam agama, adat istiadat, akhlak dan peraturan-peraturan hidup. Mengenai kepercayaan keagamaan, bangsa Arab merupakan salah satu dari bangsa-bangsa yang telah mendapat petunjuk. Mereka dahulu telah mengikuti agama Nabi Ibrahim. Karena terputus dengan nabi sebagai juru penerang, meraka lantas kembali lagi menyembah berhala. Berhala-berhala mereka terbuat dari batu dan ditegakkan di Kakbah. Dengan demikian agama Nabi Ibrahim bercampur aduk dengan kepercayaan keberhalaan. Kemudian keyakinan terhadap Nabi Ibrahim itu telah benar-benar kalah dengan kepercayaan keberhalaan. Ibnu Kalbi menyatakan bahwa yang menyebabkan bangsa Arab menyembah batu atau berhala adalah karena siapa saja yang meninggalkan kota Mekah selalu membawa sebuah batu. Diambilnya dari batu-batu yang ada di tanah haram Kakbah. Jika telah berbuat demikian, mereka telah merasa dirinya terhormat dan cinta terhadap kota Mekah. Selanjutnya, di mana-mana mereka berhenti atau menetap, diletakkannya batu itu, dan mereka tawaf (mengelilingi) batu itu, seolah-olah mereka telah mengelilingi Kakbah.
Berhala-berhala yang ada di negeri mereka dahulunya adalah batu yang dibawa dari Kakbah (Mekah), yang kemudian mereka muliakan. Di antara berhala-berhala itu ada yang mereka pindahkan ke Kakbah, yang akhirnya Kakbah dipenuhi dengan berhala-berhala. Nama-nama berhala yang mereka sembah antara lain Hubal yakni berhala yang terbuat dari batu akik berwarna merah dan berbentuk manusia. Hubal, dewa mereka yang terbesar  diletakkan di Kakbah, kemudian Al Lata, berhala yang paling tua, berhala Al Uzza, serta Manah. Mereka mengakui berhala tersebut sebagai Tuhan mereka dan memujanya karena dianggapnya hebat. Mereka menyembah berhala-berhala itu sebagai perantara kepada Tuhan. Jadi pada hakikatnya, bukanlah berhala-berhala itu yang mereka sembah, tetapi sesuatu yang hebat di balik berhala-berhala itu. Untuk mendekatkan diri kepada dewa atau Tuhan-Tuhan itu, mereka rela berkorban dengan menyajikan binatang ternak. Bahkan pernah pada suatu ketika mereka mempersembahkan manusia sebagai korban kepada dewa-dewa dan Tuhan mereka. Kepada berhala-berhala itu, mereka mengadukan nasibnya, persoalan, atau problem hidupnya serta meminta pendapat atau memohon restunya jika akan mengerjakan sesuatu yang penting.
Diwilayah Arab, pada awal abad 6 M atau menjelang masuknya Islam, telah berkembang berbagai macam agama dan kepercayaan. antara lain adalah, al-muwahhidun (yang mengesakan Tuhan), penyembah berhala ( watsani ), Yahudi, Nasrani, Penyembah matahari dan bulan, Dahriyun ( atheis ), Shabi'in ( penyembah bintang ), Zindiq, Majusi ( penyembah api ), penyembah malaikat dan jin, kelompok yang mempercayai dua Tuhan, yaitu Tuhan yang berbuat kebaikan dan Tuhan yang melakukan perbuatan jahat.

      B.    Kebudayaan Masyarakat Mekkah Sebelum datangnya Islam

Negeri Yaman adalah tempat tumbuh kebudayaan yang amat penting yang pernah berkembang di Jazirah Arab sebelum Islam datang. Bangsa Arab termasuk bangsa yang memiliki rasa seni yang tinggi. Salah satu buktinya ialah bahwa seni bahasa Arab (syair) merupakan suatu seni yang paling indah yang amat dihargai dan dimuliakan oleh bangsa tersebut. Mereka amat gemar berkumpul mengelilingi penyair-penyair untuk mendengarkan syair-syairnya. Ada bebe-rapa pasar tempat penyair-penyair berkumpul yaitu pasar Ukaz, Majinnah, dan Zul Majaz. Dipasar-pasar itulah penyair-penyair memperdengarkan syairnya yang sudah disiapkan untuk itu.
Seorang penyair mempunyai kedudukan yang amat tinggi dalam masyarakat Arab. Bila pada suatu suku/kabilah muncul seorang penyair, maka berdatanganlah utusan dari kabilah kabilah lain untuk mengucapkan selamat kepada kabilah itu. Untuk itu, kabilah tersebut mengadakan perhelatan-perhelatan dan jamuan besar-besaran dengan menyembelih binatang ternak. Untuk upacara ini, wanita-wanita cantik dari kabilah tersebut keluar untuk menari, menyanyi, dan bermain menghibur para tamu. Upacara yang diadakanadalah untuk menghormati sang penyair. Dengan demikian penyair dianggap mampu menegakkan martabat suku atau kabilahnya.
Salah satu dari pengaruh syair pada bangsa Arab ialah bahwa syair itu dapat meninggikan derajat orang yang tadinya hina, atau sebaliknya, dapat menghinakan orang yang tadinya mulia. Bilamana penyair memuji orang yang tadinya hina, maka dengan mendadak orang hina itu menjadi mulia, demikian pula sebaliknya. Jika penyair mencela seseorang yang tadinya mulia, orang tersebut mendadak menjadi orang yang hina. Sebagai contoh, ada seorang yang bernama Abdul Uzza ibnu Amir, Dia adalah seorang yang mulanya hidupnya melarat. Putri-putrinya banyak, akan tetapi tidak ada pemuda-pemuda yang mau memperistrikan mereka. Kemudian dipuji-puji oleh Al Asya seorang penyair ulung. Syair yang berisi pujian itu tersiar ke mana-mana. Dengan demikian, menjadi masyhurlah Abdul Uzza itu, dan akhirnya kehidupannya menjadi baik, dan berebutlah pemuda-pemuda meminang putri-putrinya. Mereka mengadakan perlombaan bersyair dan syair-syair yang terbagus biasanya mereka gantungkan di dinding Kakbah tidak jauh dari patung-patung pujaan mereka agar dinikmati banyak orang, Jika syairnya itu telah digantungkan di dinding Kakbah, sudah pasti suku/kabilah tersebut naikpula martabat dan kemuliaannya. Dengan demikian, potret seluruh kebudayaan bangsa Arab telah tertuang dan tergambar di dalam karya syair-syair mereka.

      C.     Perekonomian Bangsa Arab Sebelum Datangnya Islam

Bangsa Arab yang tinggal di bagian tepi Jazirah Arab tidak suka hidup mengembara, tetapi menetap karena di wilayah ini terdapat kota-kota dan kerajaan. Dikarenakan tanahnya yang tandus dan jarang turun hujan, maka perekonomian mereka umumnya bergerak di bidang perniagaan. Perniagaan mereka meliputi perniagaan di laut dan di darat. Perniagaan dilaut yaitu ke India, Tiongkok, dan Sumatra. Perniagaan di darat ialah didalam Jazirah Arab sendiri. Tetapi setelah Yaman dijajah oleh bangsa Habsyi dan kemudian oleh bangsa Persia, maka kaum-kaum penjajah itu dapat menguasaiperniagaan di laut. Akan tetapi, perniagaan di dalam Jazirah Arab berpindah ketangan penduduk Mekah karena kaum penjajah tidak dapat menguasai perekonomian dalam Jazirah Arab. Adapun faktor yang mendorong Mekah dapat memegang peranan dalam perniagaan ialah karena orang-orang Yaman telah berpindah ke Mekah. Oleh karena itu, kota Mekah dari hari ke hari bertambah masyhur sesudah Kakbah didirikan. Jemaah-jemaah haji juga berdatangan dari segenap penjuru Jazirah Arab tiap tahun. Keadaan tersebut menyebabkan Quraisy sangat dihormati oleh bangsa Arab, apalagi penghargaan dan pelayanan Quraisy terhadap jamaah haji amat baik. Faktor lain ialah karena letak kota Mekah yang posisinya di tengah-tengah tanah Arab, yaitu di antara wilayah utara dan selatan.
Buminya yang kering dan tandus, juga pendorong dan memaksa penduduknya suka merantau untuk berniaga sebagai usaha yang utama dan sumber yang terpenting bagikehidupan mereka. Dari San'a dan kota-kota pelabuhan di Oman dan Yaman, kafilah-kafilah bangsa Arab membawa minyak wangi, kemenyan, kain sutra, barang logam, kulit senjata, dan rempah-rempah. Barang-barang perniagaan ini ada yang dihasilkan di Yaman dan ada juga dari kota pelabuhan India dan Tiongkok. Oleh kafilah-kafilah itu, barang-barang tersebut dibawa ke pasar-pasar di Syam. Minyak wangi amat diperlukan. Dengan demikian, perniagaan suku Quraisy menjadi giat serta mendapat kemasyhuran dan kemajuan yang besar di dalam dan di siluarJazirah Arab. Hal tersebut berbeda dengan bangsa Arab yang tinggal diJazirah Arab bagian tengah. Jazirah ini terdiri dari tanah pegunungan yang sangat tandus karena wilayahnya yang sangat panas dan gersang. Wilayah ini tidak pernah dimasuki oleh bangsa lain karena penduduknya juga sedikit sekali, yaitu terdiri dari kaum pengembara yang selalu berpindah-pindah tempat,menuruti turunnya hujan, dan mencari padang-padang yang ditumbuhi rumput tempatmenggembalakan binatang ternak. Penduduk bagian tengah Jazirah Arab ini disebut kaum Badui, yaitu penduduk gurun (padang pasir). Binatang ternak  yang mereka pelihara ialah unta dan biri-biri. Biri-biri ini adalah salah satu dari modal hidup yang terpenting bagi mereka. Air susu biri-biri itu diminum, dagingnya untuk dimakan, dan kulit serta bulunya mereka buat pakaian atau kemah. Orang Arab yang bertempat tinggal di padang pasir mempunyai watak pemberani. Berani adalah sifat yang amat menonjol pada mereka, Mereka selamanya membawa senjata dan sering sendirian di padang pasir. Tak ada yang melindunginya di waktu itu, kecuali hanyalah keberanian mereka sendiri. Olehkarena kehidupan di padang pasir serba sulit, maka bangsa Arab tersebut selalu mengganggu, menyerang dan merampas harta penduduk negeri ( penduduk Jazirah Arab bagian tepi yang sudah mapan ekonominya ). Oleh karena itu, penduduk padang pasir dipandang sebagai orang-orang biadab yang tak dapati ditaklukkan oleh penduduk negeri. Mereka dahulu pernah memegang peranan penting dalam melancarkan perniagaan dunia, yaitu sebelum Terusan Suez digali. Laut Mera pada waktu itu belum dipakai untuk pelayaran dan karena banyak pulau, maka para Badui (penduduk gurun pasir) itulah yang bekerja memperhubungkan perniagaan antara Benua Asia dan Benua Eropa dengan melalui Jazirah Arab. Jalur-jalur perniagaan telah mereka atur dengan rapi dan saksama.